Home > Otomotif > Stop Lamp Jarang Nyala, Apa Ga Pake Rem ?

Stop Lamp Jarang Nyala, Apa Ga Pake Rem ?

Itu salah satu pertanyaan dari Kang Hoho sewaktu touring bareng JatengMotoBlog ke Dieng tanggal 17 kemarin. Kebetulan posisi saya berada di depan dan oleh Kang Hoho melihat stop lamp saya jarang nyala.  Saya yakin lampu belakang pio yang beberapa waktu saya ganti pake LED sehat wal afiat meski lampu kota-nya agak redup. Dan mungkin iya juga, memang Saya sendiri cukup jarang ketika pengereman, langsung menggunakan rem depan/belakang tanpa didahului engine brake.

Dalam kondisi riding normal yang tidak banyak lawan, jarak antar kendaraan cukup, meski naik turun namun tidak tajam, saya cenderung menggunakan engine brake saja, dan sesekali dikombinasi dengan rem depan+rem belakang. Juga ketika dalam tikungan, saya cenderung mengerem tepat di ujung tikungan. Mungkin istilah di dunia balap namanya Late-Breaking. Tapi juga bukan berarti tidak beresiko Misal kemarin pas di tikungan di jalan sepanjang Selo-Ketep, sudah berhasil di ujung tikungan dengan engine break, pas di ujung mau belok nambah pake rem depan + belakang, mungkin karena medan berpasir yang tidak terlihat sebelumnya dan rem depan agak terlalu ditekan, saya hampir tergelincir. Dan selanjutnya ketika medan tikungan berpasir, porsi rem depan saya kurangi.

Seperti teori yang sudah umum bahwa dalam pengereman, beban motor cenderung akan berpindah ke depan sehingga porsi pengereman harus lebih banyak rem depan dari pada rem belakang. Angka yang sudah umum adalah 70% rem depan dan 30% rem belakang. Ya, saya sendiri setuju dengan teori tersebut, namun itu hanya maksimal dipakai ketika track lurus & tidak banyak tikungan. Atau ketika dalam track balapan yang beraspal mulus. Tapi akan lain cerita kalau di jalan raya yang beragam kondisi, atau dalam track adventure yang kadang aspal dipadu dengan tanah, pasir dan kerikil hingga bebatuan.

Belajar memanage engine break sangat membantu dalam proses pengereman, tentunya kita ga mau dalam kondisi kecepatan tinggi, tarik kopling sampai habis, trus mengandalkan rem depan dan rem belakang aja buat menghentikan laju kendaraan, bisa berhenti sih, tapi kemungkinan berhenti sambil jungkir balik juga mungkin. Reflek itu penting, tapi jangan mengandalkan reflek untuk hal sepenting ini, usahakan setiap proses dalam riding, itu bukanlah reflek melainkan sesuatu yang sudah kita prediksi sebelumnya. Karena reflek biasanya hanya satu rangkain waktu, tidak mencakup kondisi setelahnya. Misalnya: kita reflek menghindar ketika akan tabrakan, mungkin kita berhasil menghindar dari tabrakan dari depan dengan reflek banting stik ke kiri, namun karena ini reflek yang tidak kita prediksi sebelumnya, bisa jadi kita tidak sadar kalau di sebelah kiri kita ada motor lain yang kemudian ikut tersenggol saat kita banting stir tadi. Beda dengan prediksi, kita sudah harus memperhitungkan beberapa kondisi dan kejadian yg mungkin akan terjadi.

Oleh karena itu, ketika saya di daulat menjadi RC pas touring kemarin, saya cenderung tidak mendahului kendaraan di depan saya ketika saya tidak yakin ada space yang cukup untuk satu rombongan dapat melintas semua tanpa terputus. Memang untuk memprediksi ini susah dan perlu latihan. Seperti memprediksi speed kita, speed kendaraan di depan, di samping dan di arah yang berlawanan, dan memprediksi kendaraan lain di belakang kendaraan yang berlawanan dengan kita. Dan ketika sudah prediksi ini kita lakukan semaksimal mungkin, sisanya tinggal reflek murni kita serta kuasa Allah SWT. Alhamdulillah, meski susah buat saya jelasin gimana proses prediksi ini, tapi  selama saya berkendara dengan cara seperti ini hampir tidak pernah mendapatkan masalah serius baik rem mendadak berujung menyeruduk, dan lain sebagainya. Mungkin lebih enak kalau berbagi langsung pas kopdar ya… soalnya susah klo ditulis.

Bagimana cara Anda mengerem ? boleh kita bagi-bagi disini 😀

Itu salah satu pertanyaan dari Kang Hoho sewaktu touring bareng JatengMotoBlog ke Dieng tanggal 17 kemarin. Kebetulan posisi saya berada di depan dan oleh Kang Hoho melihat stop lamp saya jarang nyala.  Saya yakin lampu belakang pio yang beberapa waktu saya ganti pake LED sehat wal afiat meski lampu kota-nya agak redup. Dan mungkin iya juga, memang Saya sendiri cukup jarang ketika pengereman, langsung menggunakan rem depan/belakang tanpa didahului engine brake. Dalam kondisi riding normal yang tidak banyak lawan, jarak antar kendaraan cukup, meski naik turun namun tidak tajam, saya cenderung menggunakan engine brake saja, dan sesekali dikombinasi dengan rem depan+rem belakang.…

Review Overview

User Rating: Be the first one !
0

About Khoirul Imamudin

Nama saya Khoirul Imamudin. Tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang terkenal dengan susunya, yakni Boyolali. Tinggal di sebuah wilayah yang cukup tidak lagi terpencil, tepatnya di Dukuh Jaten Wetan Desa Kragilan Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali. Selain aktif di dunia IT, saya juga hobby riding dengan motor, maka di blog saya ini konten yang saya bagi mungkin akan banyak bertemakan IT dan Otomotif.

6 comments

  1. aku juga suka ngerem pake engine brake dan rem depan tok malah tapi agak jauh dari tikungan.

  2. klo pioku sih nyala lampu senjanya, cuman agak redup. lha ini tadi tak cek ternyata sensor rem-nya yg lupa di stel ulang.. jd ngerem agak dalam baru nyala… pantes kemarin kang hoho tanya kok ga ngrem ? hehehe

  3. motorku yo ngono mas, walaupun lampu depan sudah nyala. Nyalanya ketika rem depan atau belakang ditekan.

Silahkan berkomentar