Home > Otomotif > Modifikasi Motor > Uji Coba Kiprok DC L12 Generasi Ketiga
Uji Coba Kiprok DC L12 Generasi Ketiga

Uji Coba Kiprok DC L12 Generasi Ketiga

Well, setelah bahas sekelumit mengenai Kiprok DC L12 Generasi Ketiga yang tiba di meja redaksi 3 minggu yang lalu, dalam 3 minggu ini pula saya uji coba ini kiprok dari sekedar muter2 keliling kota, trus agak jauh dikit ke Solo atau muter-muter jalanan kota Solo yang sekarang sudah padat merayap, kira-kira 60-80an km lah PP. Sampai benar-benar saya ajak turing jarak menengah sekitar 250-an km (PP Total 500-an km ).

Dalam uji coba kali ini, tentunya dengan gaya riding saya, setting mesin pio saya dan juga beberapa tambahan perangkat kelistrikan yang ada di pio merah yg saya miliki. Kondisi spull sudah pernah digulung ulang karena kebakar sekitar 2 tahun lalu, tenang… kebakarnya jaman belum kenal dengan Kiprok DC L12 ini, baik versi 1, versi 2 apalagi versi terbaru ini. Jadi kondisi spull saya perkirakan 75-80%. Hasil uji coba tentunya dapat berbeda dengan hasil tes kawan-kawan lain.

Beban

Beban kelistrikan yang saya pakai antara lain:

  1. Headlamp LED 35W (Low: 25 watt (2A), High: 35 watt (3A)
  2. Alarm Motor ( +/- 100 mA )
  3. LED Epistar 18W ( 1.5A )
  4. Klakson Keong Hella Waterproof (dengan Relay)
  5. Kapasitor Bank 40.000uf / 25V
  6. Dan beberapa lampu Led kecil yang total kebutuhan arusnya kurang dari 500mA
  7. Aki Yuasa 12v / 7.2Ah, umur 3 bulan.

Disin LED Headlamp dan Epistar jelas membutuhkan arus tertinggi, dimana karakteristik LED sendiri adalah dayanya harus konstan. Jadi ketika dia menyala (low), maka arus yg diambil konstan 2A atau bahkan lebih tergantung tegangan standbynya.

Dengan kunci kontak On, headlamp nyala Low (2A) plus lampu rem belakang dan beberapa LED lain, total terukur di Ampere meter adalah 2.XX A. Dan voltase yang terbaca di voltmeter 10.6 volt. Starter bisa ngangkat, kecuali klo motor tidak dipakai selama 2-3 hari, atau hanya dipake sebentar buat nganter anak sekolah tiap pagi dengan durasi pemakaian kurang dari 30 menit, pasti aki turun. Bisa dipahami karena Alarm motor standby di kisaran maks 100 mA, maka dalam 10 jam, daya aki sudah berkurang 1A.

Jalan Pendek

Jalan dengan rute pendek, hanya sekitar 1-2 jam perjalanan. Tegangan yang saya dapati dengan beban minimal (headlamp Low dan bbrp lampu led Rem) adalah maksimal di angka 12.8 – 13.8 volt pada putaran 5000 – 6000 rpm. Ini adalah tegangan yang nyaman untuk arus pengisian aki. Cukup bagus, tidak terlalu rendah, juga tidak terlalu tinggi.

Dengan semua lampu saya nyalakan, headlamp mode high, epistar juga saya nyalakan, maka total beban >4.5A. Tegangan yang terbaca di voltmeter berkisar 11.5 – 12.5 volt pada putaran 5000 – 6000 rpm. Cukup kritikal sebenarnya mengingat spull saya dalam kondisi hanya 80%, jadi perkiraaan saya untuk pengisian aki paling hanya dapat sekitar Β +/- 500 mA atau bahkan kurang. Sehingga untuk mengisi aki secara penuh, perlu berkendara paling tidak 3-4 jam. Jadi buat saya, untuk jarak pendek, menyalakan semua beban hanya ketika benar-benar dibutuhkan.

Cukup berbeda dengan Kiprok DC L12 generasi kedua, untuk jarak pendek dengan beban minimal dan kondisi yang hampir sama, saya dapat >14 volt. dan dengan beban maksimum, saya masih dapat >13 volt.

Jarak Menengah s/d Jauh

Untuk jarak menengah apalagi jauh, sudah dipastikan arus pengisian akan maksimal karena rata-rata berkendara bisa lebih dari 3-4 jam. Saya uji coba jalan ke Pemalang dengan total jarak 250 km (PP 500 km) dengan waktu tempuh 5-6 jam, sudah jelas aki saya pasti kondisi penuh. Dan di versi ketiga ini, saya tidak khawatir lagi overcharge karena menurut produsen, limitasi tegangan maksimal di 15.4 volt. Dalam perjalanan jarak menengah ini, voltase yang saya dapati maksimal 15 volt, tidak pernah lebih dari itu dengan beban minimal. Mungkin kalau beban semua dimatikan bisa mencapi limit maksimal, yakni 15.4 volt sesuai klaim produsen.

Setelah 3-4 jam berkendara, sesuai perkiraan saya aki sudah mencapai titik penuh. Sehingga voltage selalu terjaga di kisaran 13.3 – 14.3 V dengan beban minimal pada posisi putaran 5000 – 6000 rpm. Dan dengan beban maksimal di putaran yang sama, saya bisa dapat >12.6 volt.

Pada kondisi ini ketika kunci kontak On dan mesin belum nyala, terbaca di voltmeter tegangan sekitar 10.8v (dengan beban minimal) dan jreeennnng.. starter lancar. Kondisi air aki juga dalam level aman.

Kesimpulan

Hmm… oke… jadi begini… untuk kesimpulan dari saya tes beberapa hari ini, ada plus minusnya, terutama dengan kesesuaian kondisi motor berserta perangkat kelistrikannya, gaya berkendara saya, dan juga ritme berkendara saya, juga sedikit berpengaruh cocok tidaknya Kiprok DC L12 ini. Dapat saya tarik kesimpulan sebagai berikut:

Kelebihan

  1. Tentunya dapat men-DC kan motor tanpa otak-atik spul.
  2. Body lebih ciamik dengan pendingin yg memadai sehingga resiko circuit terbakar lebih minim. (dalam kasus konon ada yg meleduk, mungkin karena circuit regulatornya jebol sehingga tegangan lolos lebih dari 20v dan bisa lebih tinggi lagi sehingga aki, spull dan komponen listrik lain tewas)
  3. Limiter sedikit di atas rata-rata kiprok standard (14.8v), yakni 15.4v. Cocok untuk yg suka pasang akesoris listrik, namun saran saya jangan banyak-banyak, dan pertimbangkan juga apakah spull masih sehat atau tidak, karena ketika spull sudah tidak sehat, ya percuma aja pakai kiprok mahal pun akan sia-sia.
  4. Ada mounting hole

Kekurangan

  1. Dalam paket, skun tipis sekali, sebisa mungkin segera ganti dengan yg lebih tebal
  2. Body masih besar dan finishing masih agak kasar. Sisi alumunium masih ada yg tajam dan lancip, resiko kena kabel-kabel dan bikin lecet baik kabel maupun cat body / frame.
  3. Kurang cocok untuk beban besar, yang suka pasang aksesoris berdaya besar dan pingin tetep nyala terus, mungkin bisa pakai generasi 2, atau bahkan generasi pertama.

Setiap produk pasti ada kelebihan dan kekurangan. Dari setiap versi tentunya ada perbaikan dibanding versi sebelumnya. Saya sendiri lebih cocok pakai yang generasi kedua, karena kalau di rumah motor hanya dipakai jarak pendek, sehingga pengisian aki tidak maksimal dan di generasi kedua pengisian cukup oke dan bersahabat dengan beban yang terpasang. Namun tetap saja, ketika motor hanya digunakan sekitar 30 menitan tiap harinya, tidak lebih, maka tiap 3 minggu atau 1 bulan, mesti di charge ulang aki-nya.

Oke semua tergantung pemirsa, ada yang sukses (termasuk saya) mengaplikasikan Kiprok DC L12 ini di motornya, namun ada juga yang gagal. Untuk rekomendasi dan cara pemasangan yang benar, silahkan kontak langsung dengan produsen yang tentunya akan dengan sangat senang hati memandu cara pemasangan yang benar dan aman.

Atau kalau kang mas bro ragu, atau takut jebol motornya gara-gara pakai ini kiprok apalagi memperoleh informasi dari beberapa kawan yang ternyata kurang beruntung alias gagal mengaplikasikan kiprok ini, ya monggo saja tidak udah diaplikasikan.

Oke.. segini aja… semoga bermanfaat, saya mencoba review secara berimbang dan berdasarkan pengalaman saya, kurang lebihnya saya mohon maaf kepada produsen dan semuanya aja yang sudah atau belum pernah pakai alat ini. Setiap uji berbeda-beda, hasil juga beda.. silahkan dikunyah-kunyah mas bro… πŸ˜€ πŸ˜€ Maaf lupa dokumentasi foto pas uji coba, soalnya cuaca lebih sering hujan, jadi HP dan Kamera ada di Box terus πŸ˜€

 

Well, setelah bahas sekelumit mengenai Kiprok DC L12 Generasi Ketiga yang tiba di meja redaksi 3 minggu yang lalu, dalam 3 minggu ini pula saya uji coba ini kiprok dari sekedar muter2 keliling kota, trus agak jauh dikit ke Solo atau muter-muter jalanan kota Solo yang sekarang sudah padat merayap, kira-kira 60-80an km lah PP. Sampai benar-benar saya ajak turing jarak menengah sekitar 250-an km (PP Total 500-an km ). Dalam uji coba kali ini, tentunya dengan gaya riding saya, setting mesin pio saya dan juga beberapa tambahan perangkat kelistrikan yang ada di pio merah yg saya miliki. Kondisi spull…

Review Overview

User Rating: Be the first one !
0

About Khoirul Imamudin

Nama saya Khoirul Imamudin. Tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang terkenal dengan susunya, yakni Boyolali. Tinggal di sebuah wilayah yang cukup tidak lagi terpencil, tepatnya di Dukuh Jaten Wetan Desa Kragilan Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali. Selain aktif di dunia IT, saya juga hobby riding dengan motor, maka di blog saya ini konten yang saya bagi mungkin akan banyak bertemakan IT dan Otomotif.

Silahkan berkomentar